Satu Pria Dalam Hidupku....Telah Pergi
Selasa, 15 April 2008...telah dua minggu berlalu. Tepat di hari itu...ku mendengar berita duka yang seharusnya membuatku meneteskan air mata. Namun, yang ku rasakan saat itu hanya gemetar...linglung dan aku harus kesana.
Enam jam kemudian, aku telah berada di mesjid Raya Salimpaung Batu Sangkar, tempat beliau disolatkan. Di antara jamaah yang sangat banyak, ku mencari sosok yang paling terluka. Istrinya...menangis...memelukku...sontak membuat semua jamaah menatap kami. Sebagian kembali mengangis...dan saat itulah...air mata yg sedari tadi tertahan,...baru bisa kuhamburkan keluar. Bersamaan dengan dekapan erat nenekku, tangisan harunya di pundakku...dan belaian tangan lemahnya di kepalaku.
"Kakek udah ga' ada naak..." isakan tangis nenek. "Ya nek, Allah sayang sama kakek, kakek ga' dibiarkan sakit lama-lama kan nek?". Hanya itu yang bisa kuucapkan. Ya, hanya lima hari ku degar kabar kakek sakit, itupun lemah karena ga' nafus makan. Semua rahasia Allah, dengan cara apapun, jika sudah saatnya, semua akan kembali pada-Nya.
Terngiang ditelingaku ucapan kakek semalam sebelum beliau pergi. Dia meminta doaku, selalu menanyakan "Kapan sari pulang?", dan yang terakhir beliau bilang, "Do'akan kita bisa ketemu, dan do'akan kakek lancar". Di malam itu, aku telah merasakan pertandanya, air mataku telah habis ku kucurahkan saat mendoakannya. Jika umurnya panjang, ku mohon Allah segera menyembuhkanya, namun jika yang terbaik menurut Allah adalah memanggilnya, aku ikhlas. Dan dipagi Selasa duka itu, aku tak kaget lagi...kata-katanya semalam terbukti...kakek telah pergi...dengan lancar.
Tanpa seorangpun yang menemaninya, seperti tidur pulas. Namun, napasnya telah tiada. Mobil yang seharusnya membawanya ke rumah sakit, justru berbalik membawa keluarganya ke pemakaman. Beliau terkesan tak ingin merepotkan. Seminggu sebelum tiada, rumah nya telah di cat rapi, tanah tempat beliau dimakamkan telah direnovasi, dipagarinya dan di cat ulang. Rumah di kampungpun selesai di catnya. Dan yang pasti...berdua kekasih hatinya...nenekku...sehari sebelumnya mereka sudah saling memaafkan, menangis berdua, dan saling mengikhlaskan. Aku iri...mungkinkah kutemukan kisah cinta seperti ini dalam hidupku? semoga ya Allah...
Kakek pergi dengan senyum. Seperti yang diucapaknnya padaku semalam sebelumnya..."semua tanggung jawab kakek telah selesai". Ya...ku melihat senyum yang tak pernah tampak disaat orang tercantik sekalipun sedang tertidur. Namun senyum itu tersimpul di bibir kakek. Selamat jalan kakek...pesanmu agar selalu ku doakan insyaAllah akan selalu mengisi doaku. Selain ilmumu yang bermanfaat dan sedakah jahiriyah...amal anak cucu mu yang soleh juga akan membawamu ke syurga. Insya Allah...
Kakekku lahir dan pergi di tanggal yang sama, di usianya yang ke 74 tahun. Beliau panutanku dalam hal disiplin...sangat bersih...seutas rambut di lantai akan disingkirkannya. Dan yang pasti...ketegasan dan wibawanya tak akan ada yang menandingi di keluargaku. Bersama didikannya aku besar, dan bersama doanya aku bisa menjadi seperti ini. Saat ini...aku semakin merindukannya.

Comments