Antara Sedih dan Teruji
Assalamu'alaikum...
Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui, hanya ingin berbagi. Bukan juga untuk menyinggung apalagi melukai perasaan teman-teman, namun semoga bermanfaat utk yang membutuhkan....termasuk akyu :)
Masalah itu begitu berat membebani pikirannya bahkan mempengaruhi ibadahnya. Ia menjadi tidak tenang, shalat tidak khusyu', juga sulit tidur. Kondisi fisiknya tentu jadi ikut terpengaruh. Yah...gadis itu menyampaikan kalau dia ingin sekali menikah...
Siapa yang tak sedih mendengarnya? Secara semua muslimah lajang pasti menginginkannya. Ku juga mencoba memahami perasaannya, kadang keninginan itupun terjadi padaku. Tapi wajarkah jika hal ini mengacaukan segalanya?
Seiring waktu, kita harus makin meyakini Allah bisa menjodohkan hamba-Nya kapan saja. Tapi, seringkali Dia mempunyai rencana lain yang mesti kita ambil hikmahnya sebanyak-banyaknya.
Dikutip dari ummigroup.co.id, aku menyadari menikah bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bahagia mungkin benar, karena ia adalah anugrah istimewa. Tapi merasa bangga dan lebih baik dibanding orang lain, jelas tidak tepat. Apalagi dianggap segala-galanya -> semoga Allah menjauhkan kita dari sikap ini, amin.
Aku gemas mendengar seseorang berujar kepada muslimah yang usianya jauh lebih tua namun belum berkeluarga, ''Wah, kalau gitu saya dong yang harusnya dipanggil 'Mbak'. Anak saya kan sudah tiga.'' Aku aja tidak nyaman dengan ucapannya, apalagi yang bersangkutan? Ku tak tahu, apakah ia sudah kehilangan kepekaan? Atau, memang begitu sifat manusia yang kerap di 'uji' dengan berbagai kemudahan dari Allah?
Surat Al-Kahfi ayat 46: ''Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.''
Manusia boleh berharap banyak tapi tidak selalu bisa memilih. Seandainya bisa pasti ia akan memilih yang 'enak-enak' berdasarkan nafsunya. Inilah bagian dari mengimani takdir. Dalam masalah jodoh, perspektif iman harus senantiasa dikedepankan. Banyaknya muslimah yang belum menikah pada usia matang harus disikapi secara arif. Selain harus dicari solusinya, muslimah sebaiknya melakukan pembekalan diri.
Semuanya tergantung kepadanya, apakah ia akan memandang sebagai ujian ataukah kelemahan? Jika ujian, maka mencari hikmah sebanyak-banyaknya akan lebih berkesan dan membahagiakan daripada mencemaskannya. Jika dianggap kelemahan, tidak akan ada yang didapat selain perasaan tertekan.
Sekali lagi, tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui, hanya ingin berbagi. Bukan juga untuk menyinggung apalagi melukai perasaan teman-teman, namun semoga bermanfaat utk yang membutuhkan....termasuk akyu :D
Disadur dari ummigroup.co.id.
Wassalam

Comments