Kisah Seorang Iqbal
Dalam derasnya hujan yang melanda kota itu, semua orang terlelap ditemani dinginnya suasana dan lantunan musik yang diputar oleh si sopir. Perjalanan panjang yang mungkin akan sangat melelahkan, pikirku.
Kali ini tak ada bedanya, berjalan siang ataupun malam, aku lebih melilih tidur. Perbedaannya hanya terlatak pada penumpang di sampingku. Travel super executive yang biasanya ku sewa di malam hari, membuatku menjadi satu-satunya perempuan di mobil itu. Empat penumpang lainnya adalah bapak-bapak, dan jadilah pembicaraan kami hanya seputar pekerjaan. Namun, kali ini hanya ada satu penumpang lelaki, dan syukurnya disampingku adalah ibu-ibu dengan anak balitanya. Horrree...aku bisa tidur dengan tenang...batinku bicara.
Sesampainya di daerah pendakian menuju Salaiang Padang Panjang, tiba-tiba mobil itu berhenti mendadak. Kami tersontak bangun dan terantuk ke depan. Yang terbayang saat itu hanya menyebut asma-Nya, jika itu adalah hari terakhirku. Alhamdulillah tak sampai menyentuh mobil di depan kami, tapi "bruuukkk", bunyi keras dari belakang telah menyusul. Ya Allah, dalam deras hujan, kami mengalami kecelakaan kecil.
Si penabrak melarikan diri, sang sopir tak mau kalah, dengan belokan berbahaya, tetap mengejar orang tak bertanggung jawab itu. Jantungku tak tau posisinya ada dimana saat itu, hanya bisa mengucapkan asmaNya, tanpa berani melarang si sopir utk racing di jalanan yang bukan arena balap. Setelah si penabrak berhasil dihentikan, dalam hujan deras mereka menyelesaikan masalah. Tak apalah pikirku, berantempun boleh, yang penting kami aman sampai di tujuan. Sekilas pandanganku tertuju ke si kecil yang asyik terlelap di pangkuan ibunya. Tenaaang sekali, aku ingin seperti itu, nyaman di pelukan ibu dalam kedinginan, tanpa merisaukan keadaaan di sekelilingku.
Fuiiih, akhirnya masalah itu selesai juga. Semoga kali ini perjalanan bisa lancar. Tapi sayang, beberapa menit kemudian, dalam keadaan masih tertidur, si kecil tadi mengeluarkan sesuatu dari mulutnya dengan semburan yang cukup jauh. Dengan spontan ku mencari kantong, tapi terlambat, semua telah menyebar di sekelilingku. Saat itu ku berusaha sesabar mungkin, namanya juga anak kecil. Tanpa ku sadari, si ibu membersihkan calanaku...waaa...aku kena juga ternyata. Aku bergumam dalam hati "lebih baik pulang malam dengan bapak-bapak, meskipun berangkat siang banyak ibu2nya, tapi begini yang terjadi". Astaghfirullah, saat itu hati ini sedang tak bersih, maaf.
Jelas, si sopir ga' bisa terima. Dia memarahi si ibu, karena sebelumnya si ibu memberikan susu botol pada anak itu. Otomatis yang keluar adalah susu semua. Duuuh...bisakah anda membayangkan, perasaan ku yang sangat membenci susu ini saat itu? Apalagi susu bayi....hiks...aku pusing, tapi tak bisa menyalahkan orang lain. Berusaha utk tidur, tapi trauma dengan kecelakaan tadi. Ya Allah, ku mohon hilangkan bau ini, itu saja pintaku.
Iqbal, nama si kecil yang sedang lemas itu. Ibu-ibu yang menggendonngnya yg semula kupikir adalah ibunya, ternyata nenek Iqbal. Iqbal, berusia dua tahun, dan selama ini dia ditinggal ibu kandungnya karena kelainan sel darah merah setelah melahirkan. Gejala penyakit itu biasanya diketahui pada wanita begitu mereka masih gadis, saat-saat puberitasnya datang. Tapi tidak dengan ibu Iqbal, satu bulan setelah melahirkannya, beliau tak dapat lagi menyusui dan memeluk anaknya.
Si nenek yang dipanggil mama oleh iqbal bercerita dengan nada sedih yang dikuat-kuatkan. Jangankan dia, aku saja yang mendengarkan hampir meneteskan air mata. Akupun tak sanggup bertanya apa-apa lagi. Tapi ibu itu meneruskan ceritanya. Pliiis...somebody stop her!!! Bukannya menghentikan, Ibu direktris bank Riau yang posisinya di depanku malah ngeladenin. Ya Allah, aku tak bisa melihat orang menangis, aku hanya ingin istirahat.
Di balik semua kisah seoarang Iqbal, aku ambil hikmahnya. Untuk apa aku meratapi kesedihanku saat itu, karena lebih banyak orang yang memiliki masalah melebihi kasusku. Untuk apa aku ratapi masa lalu, karena semuanya tak akan bisa kembali. Dan untuk apa aku menakutkan masa depan, karena belum tau aku hidup esok hari. Yang pasti, hadapi hari ini dan berbuat lah sebaik mungkin. Allah punya rahasia tersendiri, siapa sangka ibu kandung Iqbal menikah di tanggal 14 Desember 2004 dan meninggalkan dunia setahun kemudian di tanggal yang sama. Dan siapa yang tega melihat Iqbal karena kepulangan mereka ke kampung halaman saat itu adalah untuk mengantar ayah Iqbal menikah lagi. Disitulah ku mencoba belajar ikhlas. Allah Maha Besar, ada keputusan rahasiaNya di balik setiap kejadian.
Iqbal, si kecil yang malang tapi mengajarkanku banyak hal. Iqbal, si kecil yang semula membuatku dongkol, tapi akhirnya membuatku berterima kasih. Dan karena melihat Iqbal, aku mulai bersemangat lagi. Terima kasih ya Allah, Engkau tunjuki lagi pola berfikirku.

Comments